15 November 2010

Dear You,,

Dear You,

Heyyy,,, apa kabar??? Ku harap baik..
Tidak pantas aku bicara seperti ini, sungguh aku tidak mau  menyakiti siapapun,
Dan seharusnya aku tahu, bagaimana keadaanmu.. bagaimana hatimu..
Tapi sudah aku coba, mungkin sekali karna aku memang tidak berniat mencoba..

Ini sakit..
Aku tau,

Tapi,
Apakah tidak lebih menyakitkan ketika kamu tahu aku berpura- pura??
Tidak baik untukmu bahkan untuk hati yang aku paksa..

Aku juga sakit, perasaan bersalah yang kian menjadi..
Dan ketika aku melihat bayanganmu di ujung kelas itu,,
Aku semakin membenci diriku..
Aku tak sanggup untuk bercermin... betapa jahatnya aku..
Untuk hal yang semudah ini aku tak bisa..
Bagaimana untuk menuntun hatimu nanti??

Sudahlah,,
Ikhlaskan aku...
Memang lebih baik dengan keadaan seperti ini,
Untukmu mengerti dan untukku belajar..

Apa yang dirasa itu tak harus dipendam..
Apa yang diinginkan tak harus dipunya..
Aku yakin akan ada seseorang yang lebih baik bahkan jauh lebih baik dari aku..

Dan aku berjanji..
Aku akan bahagia bersama seseorang pilihanku..
Tragis memang,, tapi harus.
Ini yang membuat aku kuat dan ini yang membuat kamu bangkit..

Tak ada awal

Tak ada awal..

Sungguh aku tak tahu kapan mulainya dan memulai dari mana..
Begitu saja dan mudah..
Saling menyapa dan bercerita..

Hanya itu,,

Tapi kenapa terasa lebih penting?? Mungkin biasa dan banyak
tapi tidak kali ini..

Akupun sangat sulit untuk mengungkap apa dan kenapa..
Dimulai dari mana?? Sungguh bodoh untuk bertanya karena,,
hanya aku yang tahu untuk jawaban singkat ini..
sudahlah jangan pernah mengingat dan bertanya..

CUKUP.. apa kamu tidak dengar??

………………………………………………………………..

Dan aku tetap tak bisa mengingat dengan sempurna..
samarsamar suara disebrang mengingatkanku,
akan kisah kambing dan rumput..

rumput yang tidak tegar itu rapuh kembali..
tetapi kambing berjanji untuk menjaga agar rumput tetap tersenyum dan
dia selalu bisa melihat rumput setiap pagi..
akan sayangnya sahabat itu, tak sampai kambing memakannya seperti yang biasa dilakukannya..

pernah suatu hari kambing berjanji akan kembali..
karena dia harus pergi..
rumputpun menjaga dirinya ditemani ilalang yang menutupi karena tingginya..

Sungguh kambing kembali,

Akan tetapi waktu berubah..
Dan rumputpun meminta untuk memakannya sebagai tanda persahabatan..

Akan tetapi kambing tak akan pernah mau…
Dia tetap berpegang teguh pada janjinya,,

Tapi waktu sudah berubah,, rumputpun tak lagi hijau…

Ilalangpun berubah menjadi tinggi..

Akan sayangnya pada kambingpun dia meminta mengambil rumput yang lebih hijau
Dan bisa tanpa dirinya..

Sudah.. dan terjadi..

tetapi, waktu hanyalah waktu…
percobaan tak selamanya berhasil..

Kali ini teori siapapun tak berhasil..
Dan kambingpun menyerah ketika rumput mulai menguning…

Samarsamar suara itu menghilang dan menyadarkanku akan kenangan itu..

5 Jiwa dalam 1

Tepat di suatu sore aku berjalan dengan saudarisaudariku,,
Akupun sangat tau dan hapal dengan jalan ini, jalan menuju taman serupa..

Kenapa aku bisa sangat ingat???

Padahal kejadian itu sudah berapa lamanya..
Heyy,, aku tidakkah lupa, hanya berpurapurakah???

Kususuri jalan yang sangat aku tau itu, tidak lama dan tidak jauh.
Kugandeng saudariku itu satu persatu, kuperkenalkan pada taman yang sangat aku tau itu..
Ragamu menuntun pada suatu bangku,, hanya bangku kayu yang tidak spesial juga.

Hanya Ragamu melihat betapa Laut Biru sangat menikmati bangku itu.. bangku kayu yang tidak spesial juga membuat Ratu Ungu mulai mengingat..

Mengingat apa yang terjadi berapa masa sebelum bangku kayu yang tidak spesial itu lembab. Tetapi Ragamu sudah tak mampu lagi mengingat apapun,, sekalipun pada suatu masa juga dia bisa serupa mengingat jalan, bangku dan taman yang sangat aku tau.

Apa Ragamu mendengar kerapuhan pada jiwa yang tegar atau berpurapura tegar pada taman yang sangat aku tau itu???
Yaa,, itu saudariku Merah Darah. Ketegaran sungguh terbalikkan dengan keadaan di taman yang sangat aku tau itu.

Ragamu mulai capek, Ratu Ungu semakin mengingat… diapun tau siapa lelaki itu.
Ragamu mulai melemah, mengingatkan… aku tau itu cara mengingat yang sempurna.. mungkin terlalu sempurna.

APA???? TIDAKKAH KAU INGAT SIAPA DIA???? HAAA????
Semakin membuat Merah Darah tak juga andil..

KAU MASIH TAK INGAT???
Langit Hijau yang diampun tak juga andil…

Sungguh ini bukan cara yang baik,, aku tau itu.

APA PERLU AKU MENGINGATKAN UNTUKMU????

Aku merasakan Ragamu mulai menjerit, aku tau saudariku yang terluka..

Heyy, BODOH!!!! KAU TAK PERLU TAU SIAPA DIA.. KAUPUN TAK PERLU MENCOBA MENGINGATNYA.
Itu hanya membuatmu BODOH. KAU TAU ITU, HAAA????? KAU INGAT APA YANG AKU KATAKAN!!!!

“SUDAH CUKUP KAU BODOH, DAN TAK USAH MENGULANGNYA” Langit Hijau mengikuti perkataan Merah Darah.

Ratu Ungupun marah, saudariku itu berusaha mengingat dan terus mencoba memberitahuku siapa lelaki dalam taman serupa yang aku tau itu.

Kau tau,,, kau harus tau. Kau itu bodoh, kau tau siapa dia??? Kenapa ke-3 saudarimu tak mau memberitahumu.

Lelaki itu membuatmu seperti ini, lelaki kurang ajar itu membuatmu sakit dalam kerinduan..
Membunuhmu perlahan dalam kehampaan.

Kau tau itu…

Jangan pernah datang dalam taman serupa yang aku tau itu,, janganpernah datang lagi jika tak ingin membuat luka.

Dan, jangan pernah mengingat jalan taman serupa yang aku tau itu.


Character: Merah Darah, Langit Hijau, Laut Biru, Ratu Ungu, Ragamu.

22 Juni 2010

Senja, Rindu dan Ibu

Suatu Senja dimusim kemarau,

Seperti biasa, anak kecil itu..

Duduk di depan teras rumahnya yang sedikit berdebu,

yang tidak terlalu besar,
dan tidak pantas untuk dikatakan layak..

Selalu saja memandangi jalanan, ujung jalan disana

Tidak ada apa dan siapa, hanya terkadang lewat orang

Selalu saja dan setiap hari.

Pandangannya selalu saja kosong dan dingin,

Pernah dia terlewat melakukannya,

tapi semalaman dia terduduk tanpa terlelap dan memandangi langit..

Tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi,
Tak ada pertanyaan ataupun jawaban,

Semua terdiam, Sepi...

Pernah suatu hari,
Seseorang yang menjadi belahan nyawanya bertanya,

“ Apa yang sedang kamu lihat anakku, adakah yang ingin kamu tanyakan??

“ Ibu, kenapa dari ujung jalan sana tidak ada yang pernah datang kemari??

“ apa yang kamu maksud anakku??

“ APA IBU TIDAK DENGAR!! KENAPA TAK SEORANGPUN DATANG KEMARI?? TAK ADA!!!
Apa perlu lebih jelas lagi?

Semua terdiam,,

“ Maafkan ibu anakku, belum saatnya ada seseorang kemari, datang dan menemuimu..

Nanti suatu hari,,
Pasti, dan percayalah..

Lalu kenapa kamu duduk disitu anakku?? Mari kita masuk,,

“ Ibu, kenapa kapas dilangit itu hilang?? Senja telah memakannya, Apa aku boleh melakukannya??

“ Anakku, kapas itu akan berubah menjadi jingga ketika kamu ingin memakannya..
Apa kamu tidak ingin melihatnya esok??

“ Aku ingin…!!!

“ Biarlah Senja memakannya, menjaganya dan akan mengembalikannya esok agar kamu bisa terus melihatnya..

“Apakah Senja juga akan menjaga dan mengembalikan Ayah esok??

“ Pasti anakku, sekarang kita masuk dan menunggu di dalam.

Ibu menoleh untuk terakhir kalinya,

Tak ada kata terucap, Sepi..

Rasa anaknya, lebih dari cukup untuk menyadari..

Dan berharap akan ada orang yang datang dari ujung jalan sana,
dan itu Suaminya…

Sastra Albertus

Ada satu tempat disana,,

Tempat yang aku benci, tempat yang aku kangen

Dan tempat yang aku kenang,

Suatu bangunan yang tidaklah sebagus gedung Thomas Aquinas,

Dan suatu bangunan yang tidaklah se-rame gedung Justinus

Tapi..

Disana aku mengenang, Suatu hari…

Tidak ada siapasiapa, tidak ada teman

Semua baru hitam dan putih..

Tepat ketika matahari mengamuk diatas kepala,

Tepat ketika aku bertemu dengannya, yaa yaa yaa seperti biasa..

antara seorang kakak dan adik, seorang pria dan wanita, dan sebuah perasaan..

Dan kenangan itu,,

Ada satu bagian terindah dari sana,

Taman kecil, bangku kecil, dan segelas teh Tong dji

Yaa,, kadang aku melihat dan juga mendengar, bahkan menghitung..

1. Teh Tong dJi
2. Teh Tong dJi
3. Botol ciu
4. Botol ciu
5. Botol ciu
6. Botol ciu
7. Rokok
8. Rokok
9. Antara pria dan wanita
10. dan Sebuah perasaan

Semua kangen, akupun juga…

15 Juni 2010

AkuAdalahAku


-->
Airmata itu seperti nyawa tanpa raga...
Ketika raga tak mampu menopang nyawa maka nyawa mencari tempat lain
Seperti halnya aku, ketika aku mulai menyadari arti aku dalam hidupmu..
Aku bukan aku yang kamu mau..
Tapi aku akan menjadi aku seperti inginku..
Bukan seperti inginmu karna aku adalah aku..
Aku akan menjadi sesuatu dalam hidupmu sampai,
kamu benarbenar mengerti arti aku yang sesungguhnya..


18 Mei 2010

Tinggalkan aku

AKU PERNAH BERJANJI UNTUK TIDAK AKAN MENINGGALKANMU! INGAT? BAGUS!! AKU SUKA KAU MASIH INGAT ITU!! SEKARANG DENGAR..., AKU PASTI MEMENUHI JANJI ITU!! MAKA, KALAU BAHWA ENGKAU INGIN APA YANG KAU MAU ITU TERWUJUD, SEDERHANA SAJA..., TINGGALKAN AKU! SEKARANG

Jika itu maumu

Jika itu maumu.. Ya, lakukan.. jangan pernah membalikkan badan dan mengejarku... itu hanya tipuan.. yakini,, jika kau mampu... tapi.. aku.... aku akan menunggu sampai angin itu membawaku pergi ke taman keabadian..

Hanya Dia

Namun tak kau lihat Terkadang malaikat tak bersayap, Tak cemerlang, tak rupawan Namun kasih ini, silakan kau adu Malaikat juga tahu Siapa yang jadi juaranya... Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama Tidak penting. Ia sudah tahu Cinta adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang.

Inside my Heart

Bintang malam menyaksikan smua dr tempatnya, tentang letih,tentang sedih,perih.. Dan tentang senyuman kebahagiaan, diantara seribu kenangan yg dilihatnya,ada 1 cerita tentang kita.. Dimana kita bersama,dimana kamu slalu ada untuk menjaga senyum di wajahku.. Dimana kamu tercipta sempurna tuk terangi kelamnya sudut hatiku, dan bintang itu menyimpan cerita kita selamanya...

Sisa Hati

Mataku sudah tak mampu meneteskan airmata lagi,,, jari jariku telah kelu dan hatikupun telah beku... hanya tersisa namamu.. apa aku bisa bertahan dengan hanya mengingat itu???

Tembok..

Nyata mu bukan nyataku... kehidupan kita sungguh teramat berbeda, tak akan pernah aku dapat masuk dalam hidupmu... tembok itu,, ya aku tau.. tak pernah mampu ku tembus walau dengan darah sekalipun..

Untitled

Elang dg sayap yg tLah remuk,, itulah aku.. Tatapan ku pun tak setajam dulu.. Berjalan dalam kegelapan,, meraba dalam kehampaan.. Lalu,, Perlahan tapi pasti,, hatiku mulai tertutup.. Hingga suatu hari kulihat setitik cahaya di ujung lorong panjang ini.. Mulailah aku berbagi bersama cahaya itu.. perlahan kubuka hatiku.. Kami saling berbagi tentang letih,, perih,, tentang luka.. namun,, Sesaat ia diam,,tanpa bahasa tanpa kata.. aku menunggu dan terus menunggu.. Selama perjalanan gelapku,, sayap ku pun telah sembuh,, namun bekas lukanya masih tertoreh disitu.. sebagai pelajaran dan pengingatku di masa depan.. karna,, tak penting bagaimana masa lalu seseorang,, yang penting bagaimana masa depan seseorang.. ku tatap lirih cahaya yg terus terdiam ituu.. apakah ia akan tetap tinggal di ujung lorong ini,, atau,, kan terbang bersamaku menembus awan,, tinggalkan semuanya,, Di sinilah aku..

Ketika

ketika cinta itu datang kau tak menyadarinya.... ketika cinta itu datang kau tak mampu tuk membendungnya.... tetapi ketika cinta itu pergi, menjauh, dan semakin jauh kau akan menyesal.... ketika cinta itu memasuki duniamu janganlah kau menolaknya.. karna semakin kau tolak rasa itu semakin besar dan terus berkembang.. tapi apabila rasa itu SALAH janganlah kau memaksakannya karna akan melukai... seseorang itu dan dirimu... cinta.... hanya sang juaralah yg mampu bertahan... demi cinta yg di uji...

Sebab Setelah Kamu

“ Kalau kamu mau pergi, pergi saja…aku tak akan menghalangimu. Tempuh saja jalan yang kamu yakini itu, karena aku pun yakin dengan pilihanmu. Atau mungkin maunya kamu, aku berusaha menghalangi dan menimbulkan sedikit perdebatan agar tercipta kesan dramatis ?, sebelum akhirnya kamu pergi juga. Aku tak berani menebak, karena salah pengertian selalu menyakitkan. Tapi kalau aku harus jujur, sebenarnya aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku sendirian, karena kamu pun tahu bahwa aku tak pernah menemukan orang yang pengertian, dan kamu adalah orang itu. Aku juga tak ingin mengenang semua yang telah kita jalani, nanti saja kalau kamu telah benar-benar pergi dan mungkin tak kembali. Aku tak akan mengantarkanmu ke bandara, biar kamu rasakan betapa sunyinya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada yang mengucapkan ’selamat jalan’, tak ada peluk cium perpisahan, tak ada do’a-do’a yang menguatkanmu untuk terus berjalan, tak ada lambaian tangan dan tak ada seseorang yang melihat jejek langkahmu yang semakin hilang itu. Nikmati saja perpisahan sendirian, karena akupun sendirian juga menikmatinya disini. Kalau nanti di tempat barumu terasa sepi dan mungkin ingat aku, hatihati… karena itu tipuan. Dengan berjalannya waktu, itu semua akan hilang perlahan dan kamu akan benar-benar melupakanku. Nikmati saja hidup barumu. Kehidupan yang kamu impikan itu. Tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali padaku, datang saja. Aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu…aku tak menemukan siapa-siapa. Dan karena pertemuan tak bisa dilakukan sendirian, maka aku akan datang menjemputmu di bandara itu. Datanglah dengan cepat sayang. Aku ada di barisan paling depan para penjemput. Pakai baju merah tak bersepatu, sebab pakai sendal jepit aku lebih nyaman. Tapi kalau ternyata setelah para penjemput hilang, kamu tak juga datang, dan aku hanya menunggu angin, tenang saja…aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu…aku tak menemukan siapa-siapa.”

Tak ada Lagi

Aku sudah tak bisa menangis... karena sudah tak ada air mata lagi... aku sudah tak bisa berkata... karena sudah tak ada kata lagi... aku sudah tak bisa berusaha... karena sudah tak ada kekuatan lagi... kenapa kamu masih belum mengerti... apa arti dirimu untukku... kenapa kamu masih belum sadar... apa arti hadirmu untukku... kenapa kamu masih belum melihat... apa arti KAMU untukku.... sudah lah.... aku tak kuat lagi... maafkan aku kalau aku membisu... bukan karena aku lelah... bukan karena santunku hilang... tapi memang... hati ini sudah tak mengerti hadirmu... hati ini sudah mencapai batas untuk terus maju... hati ini sudah tak bisa lagi menjadi yang terbaik bagimu...

Jiwa yang Sepi

Rindu ini kejam..
Rindu ini mencekam..
Dan atau,, Rindu ini membunuh..
Setelah kumampu bertahan,
Ku tersadar,ku tak cukup tegar..
Ku tak juga sempurna..
Dan lagi apabila... Rindu ini kejam..
Ku berjalan..ke taman keabadian...
Ku Lihat, ya ku lihat...
Nama itu,, nama saudariku..
Rina, betapa nama itu mengingatkanku pada nya...
Pada suatu jiwa yang terluka karna...
Ku menyusurinya, lagi..
Kutemukan jiwa yang terluka itu.. Rina
Pusara putih dengan bunga keabadian ditengahnya,
Ya ku lihat, nama yang meneteskan darah karna rindu yang membunuhnya..