18 Mei 2010
Sebab Setelah Kamu
“ Kalau kamu mau pergi, pergi saja…aku tak akan menghalangimu. Tempuh
saja jalan yang kamu yakini itu, karena aku pun yakin dengan pilihanmu. Atau
mungkin maunya kamu, aku berusaha menghalangi dan menimbulkan sedikit
perdebatan agar tercipta kesan dramatis ?, sebelum akhirnya kamu pergi juga.
Aku tak berani menebak, karena salah pengertian selalu menyakitkan. Tapi
kalau aku harus jujur, sebenarnya aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku
sendirian, karena kamu pun tahu bahwa aku tak pernah menemukan orang yang
pengertian, dan kamu adalah orang itu. Aku juga tak ingin mengenang semua
yang telah kita jalani, nanti saja kalau kamu telah benar-benar pergi dan
mungkin tak kembali.
Aku tak akan mengantarkanmu ke bandara, biar kamu rasakan betapa sunyinya
perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada yang mengucapkan ’selamat
jalan’, tak ada peluk cium perpisahan, tak ada do’a-do’a yang menguatkanmu
untuk terus berjalan, tak ada lambaian tangan dan tak ada seseorang yang
melihat jejek langkahmu yang semakin hilang itu. Nikmati saja perpisahan
sendirian, karena akupun sendirian juga menikmatinya disini.
Kalau nanti di tempat barumu terasa sepi dan mungkin ingat aku, hatihati…
karena itu tipuan. Dengan berjalannya waktu, itu semua akan hilang
perlahan dan kamu akan benar-benar melupakanku. Nikmati saja hidup
barumu. Kehidupan yang kamu impikan itu.
Tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali padaku, datang saja. Aku
tak kan menyerah, sebab setelah kamu…aku tak menemukan siapa-siapa. Dan
karena pertemuan tak bisa dilakukan sendirian, maka aku akan datang
menjemputmu di bandara itu.
Datanglah dengan cepat sayang. Aku ada di barisan paling depan para
penjemput. Pakai baju merah tak bersepatu, sebab pakai sendal jepit aku lebih
nyaman. Tapi kalau ternyata setelah para penjemput hilang, kamu tak juga
datang, dan aku hanya menunggu angin, tenang saja…aku tak kan menyerah,
sebab setelah kamu…aku tak menemukan siapa-siapa.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar