Juni 2014
The first time “mendaki” di umur 25 tahun dan pilihannya
adalah Gunung Prau. Pertama kali denger nama prau langsung terbayang bentuk
gunungnya kayak prau (bahasa jawa = perahu). Gak kepikiran sama sekali soal
jauhnya, tingginya, bahkan apayang dibawa. Modal nekat dan browsing sedikit
hehe...
Tertarik naik gunung karena abis browsing keindahan alam di
atas gunung, dan kebetulan disuruh temen buat browsing gunung prau.
Selama ini hanya suka nungguin sunset di pantai dan belum
pernah liat di gunung, apalagi sunrise. Ya taunya Cuma pas bangun subuh aja dan
gak kebabalasan tidur.
Ga tau kenapa yang namanya liat matahari terbenam itu
sukaaaaakkkkk banget,kerennnn, megah, ademmm dan penuh kenangan. Dan ga pernah
liat yang namanya sunrise, dalam bayanganku sunrise itu ya hanya matahari
terbit seperti yang biasa di liat di rumah.
Okelah diputuskan naik bis dari solo ke dieng, turun
ambarawa dulu buat pindah bis jurusan wonosobo ( lupa tarifnya). Sampe wonosobo
pindah bis kecil arah dieng (Rp.10.000,- saja) dan turun patak banteng. Selama
perjalanan yang cukup lama (berasa lama krn bisnya gapake ac, panas, hampir
mual) ternyata bisa liat pemandangan yang bagus, apalagi pas udah nyampe dieng,
wihhhhh adem benerrrr
Sesampainya di patak banteng, istirahat, sholat dulu trus
cari makan deh. Makan seadanya aja udah enak banget dan yang pasti adalah minum
anget karna cuaca disana dingin. Makan nasi bungkus dan tempe kemul (tepungnya
banyak tempenya kecil banget) juga minum susu anget. Setelah makan daftra dulu
di basecamp dan bayar untuk naik gunung prau.
Ternyata banyak juga yang naik hari itu, tapi tidak seperti
wiken yang full manusia. Dimulai perjalanan dari sebelah warung makan lewat
desa setempat. FYI masyarakat dieng ramah ramah lohhh :D
Setelah melewati desa sampailah rintangan pertama yaitu
tangga L
astaga tangga ini rasanya berat banget di naikin, ga abis2 dan kaki udah
lengket ga mau gerak. Modal bismillah dan inget tujuan puncak dan sunrise
akhirnya terlewati juga. Setelah itu melewati kebun (kebun’nya diatas desa) dan
naik ke Pos 1. Sebenernya dari desa naik ke Pos 1 ada ojek Rp.10.000,- kalo ga
kuat hehehe....
Mulai jalan, jalan dan jalan, berhenti, atur nafas, minum.
Jalan lagi, berhenti lagi, atur nafas lagi, minum. Rasanya mau nyerah aja L hal
itu berulang puluhan kali dan ga nyangka sudah setengah perjalanan. Sampailah
pada senja yang biasa saja, kali itu saya tidak jodoh denga n senja, sunset dan
sejenisnya karna kabut mulai datang.
Hari mulai gelap, itu tandanya perjalanan harus segera
diteruskan kalo gak mau sampe puncak tengah malam, dan malah hari adalah waktu
dimana oksigen mulai menipis di hutan dan kepala mulai berat, aliran darah naik
ke kepala (lebaaayyyyyyyy). Jalannya
naik, terjal, batu, licin karna tanah liat dan harus selalu hati2 karna malam
hari rawan terpeleset karena minimnya penerangan.
Puncak seperti di sembunyikan, entah hanya perasaan saja
atau memang benar halusinasi karena sudah terlalu capek. Bertemu beberapa
rombongan dan saling sapa juga saling menyemangati. Dengan seluruh tenaga dan
doa terus akhrnya sampailah puncak (mungkin) karena sudah terdengan suara
ketawa orang2 dan banyak yang mencoba mendirikan tenda. Angin malam itu sangat
kencang berasa badai, dinginnya luarrrr biasa. Setelah mendirikan tenda, makan cemilan,
bikin susu, tidur (berharap pingsan saja krn udara dingin menusuk), jam serasa
tidak bergerak, membayangkan hangatnya kasur di kos, selimut tebal hanya
membuat sakit hati.
Alarm berbunyi menandakan waktu subuh, suara suara orang di
luar pun makin gaduh tapi udara dingin mengalahkan niat untuk keluar tenda.
Setelah yakin bangun dan memakai peralatan perang barulah keluar dengan
terpaksa karena saya tidak mau melewatkan golden sunrise gunung prau.
Pertama kali berdiri di atas puncak gunung, subuh, dingin
menggigil rasanya amazing. Belum terlihat apa2, hanya garis orange gelap agak
hitam atau biru tua lalu pelan pelan mulai terlihat gunung2 di sekitar gunung
prau. Dan wowwww banget bisa liat Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu
di satu tempat yaitu puncak Gunung Prau.
![]() |
| Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu in one view |
Langit masih gelap, matahari juga belum terlihat, tapi
samar2 sudah mulai berubah warna dan tak lupa semua orang disitu mengabadikan
dan juga selfie. Awan seperti kapas mulai muncul, bukit teletubbies juga mulai
terlihat, warna langit mulai amazing dan yeayyyy that’s Golden Sunrise. I got Golden Sunrise and I feel blessed for
this life. Betapa tidak, pemandangan yang luar biasa yang seumur hidup saya
baru pertama kali melihatnya. Matahari muncul di atas gunung, berasa dekat
sekali, sinarnya yang subhanalah banget.
![]() |
| Golden Sunrise |
Disinilah saya mengucap syukur dan
pujian terhadap sang pencipta atas pemandangan dan anugerah kesempatan yang
diberikanNya untuk melihat ciptaanNya. Foto terbaik yang saya punya atau orang
di dunia punya atas Golden Sunrise ini tetap tidak bisa menggantikan mata yang
diberikan Tuhan untuk melihat ciptaanNya yang agung.
Setelah matahari mulai bersinar dan langit sudah mulai cerah
barulah para pemburu sunrise berkemas untuk turun gunung, begitupun saya.
Pulang dengan senyum kebahagiaan, rasa capek pun hilang, menuruni gunung dengan
harapan bisa naik ke puncak gunung berikutnya untuk melihat anugerah Tuhan yang
lainnya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar