7 Agustus 2013

Aku dan Waktu

Berapa banyak waktu yang kau habiskan dengan wanita lain daripada istrimu, hai para suami?

Berapa banyak waktu yang kau habiskan dengan teman kerja priamu, hai para istri?

Mungkin ini hal sederhana yang sering tidak kita sadari, tapi apakah kita pernah menyadarinya? Pernah menghitung berapa banyak waktumu yang kau gunakan diluar sana untuk beraktifitas?
Dan lebih banyak dengan sejenismu atau lawan jenis?
Dan berapa banyak waktumu dirumah? Waktu yang kau habiskan dengan istrimu?dengan anak-anakmu? Mungkin dengan orang tuamu

Terkadang kita lalai dengan orang yang dirumah, yang senantiasa menunggu kita, dan kita lebih memilih bersenang senang diluar sana. Mencari nafkah memang suatu kewajiban bagi seorang suami tetapi jangan sampai melupakan apa yang menjadi hak keluarga kita, mereka tidak hanya butuh uang tetapi perhatian dan kasih sayang.

Untuk seorang istri, jika memang bekerja jangan sampai melupakan kewajiban dan tanggung jawab seorang istri. Tugas utamamu bukan mencari nafkah jika ada suami, tetapi mengurus rumah tangga. Engkaulah madrasah pertama untuk anak-anakmu, engkaulah panutan mereka.Saya sebagai wanita dan juga berkarier yang nantinya akan berumah tangga sangat memikirkan hal ini, masih bimbang dengan peran yang akan saya ambil.

Di sisi lain saya ingin berkarier, tetapi di sisi lain saya ingin menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Mungkin berat awalnya, tetapi saya lebih memilih mengurus anak sendiri daripada harus menitipkan pada pembantu (ya kalo ada uang) atau harus menitipkan kepada neneknya. Neneknya, ibu saya atau ibu suami saya sudah cukup lelah mengurus kami dari kecil. Saya ingin ibu benar-benar menikmati hari tuanya, mungkin sesekali bolehlah mengurus cucunya. Di masa tuanya biarkan ibu istirahat dan hanya menikmati harinya dengan cucu-cucunya atau beribadah kepada Allah.

Menjadi ibu rumah tangga harus siap dengan semua pekerjaan rumah, dengan dapur, dengan semuanya. Mungkin gak akan gaul seperti dulu atau gak bisa tiap saat wangi, wangi ompol mungkin atau wangi bumbu dapur. Saya juga bukan wanita yang bangga dengan kutek di jari atau manicure, saya bangga kalau jari-jari saya penuh bumbu dapur atau tepung dan keluarga saya menikmati hasil masakan saya. 

Cita-cita saya mungkin cukup sederhana, mengurus anak menjadikannya kebanggan orang tuanya dan agamanya dan saya ingin mereka bangga memiliki orang tua seperti saya. Ketika mereka sekolah mereka bangga memamerkan hasil masakan saya kepada teman-temannya dan bangga memamerkan ibunya di depan teman-temannya. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar