15 Juni 2011

Tanpa Pamit ^^v

Sudah kusiapkan semuanya..
Celana hitamku yang setengah usang, baju hitam yang jarang aku pakai..
Kerudung hitam baru, sapu tangan pinjaman dan kacamata seperti artis artis…
sepertinya sudah semua..
Kutengok beberapa saat tumpukan pelengkap itu,
Mungkin aku perlu membawa obat tetes mata, biar ada kesan dramatis dan melankolis..
parah… dan sedikit tidak waras..
Dengan semua serba hitam, kuteteskan sedikit obat tetes ke pinggir kornea mataku..
karna aku takut memakainya ditengah..
Sempurna,
Aksi melankolis akan segera terjadi diantara puluhan pelayat itu…
Yaa.. hanya puluhan karna tidak mungkin ada ratusan pelayat yang datang karna tingkahnya..
Kutaruh sapu tangan pinjaman itu di depan hidungku..
bukan karna aku ingin menimbulkan kesan yang lebih dramatis..
Tapi,
Aku tidak tahan dengan bau minyakminyakan seperti aromatherapy atau apalah namanya..
Dan juga bau yang ditimbulkan dari dalam peti itu…
Kusapa satu persatu keluarganya, karna tak mungkin bagiku pergi tanpa pamit..
Ada tetesan air yang keluar dari dalam kacamata hitamku..
Sangat dramatis dan melankolis..
Dan aku tersadar itu hanya karna pengaruh obat tetes yang aku pakai berlebihan..
Sudahlah..
Lebih baik aku pergi tanpa menabur bunga sedikitpun..
Tanpa melihat siapa didalam peti itu..
Dan tanpa salam perpisahan terakhir untuknya..

C U K U P

Sudah cukup.
Aku capek.
Dengan semua perlakuanmu, dengan semua tingkah lakumu, dengan semua kegilaanmu.
Pergi.
Kukutuk dirimu, kumuak melihatmu, kubunuh dirimu dari akar hatiku.
Hidup tanpamu membuatku lebih mengerti arti hidup yang abadi.
Hidup tanpamu mebuatku tersadar arti AKU dalam hidupmu.
Hidup tanpamu membuatku merasa lebih berharga dari seonggok batu jalanan.
Dan hidup tanpamu membuatku lebih bahagia.
Jauh sebelum aku mengenalmu dihidupku.
Jauh sebelum aku tau apa arti sayang yang sesungguhnya.
Jauh sebelum aku tau kebusukanmu, dan jauh sebelum semuanya terjadi.
Ketahuilah ada siang dan malam.
Ada matahari dan bulan.
Ada hitam dan putih.
Ada embun dan senja.
Ada romeo dan Juliet.
Tapi.
Tak akan ada kamu dan aku.
Cukup.
Jika tidak sekarang, nanti.
Ya, nanti.
Suatu saat.
Akan datang padamu malaikat.
Mencabut semua ingatan bahkan mencabik nyawa.

Ceritaku to Luve

Aku sudah pulang dari pasar..
Seperti biasa,, setiap pagi, aku membantunya berjualan dan membereskan dagangan..
Tanpa pamrih, karna aku hanya tau kebaikan .
Dan setiap pagi pula aku mendapatkan 1 stick lollipop warnawarni kesukaanku.
Mendapatkan itu saja aku sudah terlampau bahagia..
Disana sini membicarakan kebodohan tiap pagiku dengan perumpamaan pasak dan tiang..
Biarlah..
Aku tidak pedulu, sama sekali, dan untuk apa??
Kesabaran, ketulusan dapat dipetik ketika putus asa memang benar adanya..
Aku mendapatkan hadiah yang amat sangat indah darinya,
belum pernah kudapati tinta emas dengan warnawarna pelangi mengitari sebentuk awan berbentuk hati..
Kutulis 1 kata, 1 kalimat, 1 cerita dalam tiap lembarnya..
Seperti inginku, seperti anganku, seperti asaku..
Tak pernah berubah hitam dan putih, bahkan kilaunya menyilaukan..
Kubelajar kesabaran darinya..

Kesenyapan Penuh Warna

Seharusnya aku mengerti dengan semua akibat…
Seharusnya aku mengerti dengan semua sebab..
Dan seharusnya aku mengerti dengan semua..
Tak ada terlambat untuk belajar, tak ada terlambat untuk memahami..
Dan tak ada terlambat untuk bilang TIDAK..
Tapi apa,
Tak pernah ada kata itu…
TIDAK AKAN ADA KATA SEPERTI ITU..
Dan tak pernah ada kata TIDAK dalam hidupku.
Yaa.. Yaa.. aku tau, bahkan sangat tau sebelum ada yang memulai..
Lama, bahkan sangat lama untuk satu kata TIDAK.
Tak ada yang tau kapan, dimana, siapa, bagaimana kata itu muncul..
Sangat mudah, ringan, bahkan tanpa aku sadari..
TIDAK, selamanya membuatku mencari..
TIDAK, selamanya membuatku menanti..
TIDAK, selamanya membuatku menunggu..
dan TIDAK, untuk kata itu…
tetapi IYA untuk sebuah warna..

Tinta Pelangi

Aku ingin..
Aku sangat ingin…
Dan bahkan terlalu ingin..
Melucuti semua pakaianku, menanggalkan semua yang aku kenakan..
Lalu,,
Aku mengutuk diriku sejadi-jadinya, mencaci diriku..
Marah sejadi-jadinya, berteriak, menangis, mengumpat, tertawa…
Aku ingin semua rasa bercampur,
seperti ketika aku mengaduk dua scoop es krim vanilla dan coklat..
seperti ketika aku merasa susu bercampur kopi itu terasa lebih niikmat..
seperti ketika aku menyukai bentuk awan seperi permen kapas kesukaanku..
seperti ketika aku sadar bahwa embun hanya ada dipagi hari dan senja hanya ada di sore hari,,
seperti ketika aku memahami bahwa hidup hitam dan putih itu tidaklah menarik…
seperti ketika aku mengerti bahwa hidup tanpa jantung hanyalah membuatku kehilangan..
dan seperti selembar kertas…
aku menulis, merangkai kata indah bahkan sangat indah..
lalu,,
aku tersadar bahwa rangkaian kata itu tidaklah indah seperti anganku…
kurobek paksa, tidak bisa.
Kurobek sekali lagi, tidak bisa.
Sudah berulang kali merobeknya tapi tidak pernah berhasil..
Kulipat selembar kertas itu dengan senyum…
Dan mencoba menulis dengan tinta pelangi..